banner 728x90

KPPU: PERSAINGAN REGULASI ANTAR NEGARA DI ASIA TIMUR RELATIF SAMA

Rakyatkita.com,Tangerang,– KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) sejak awal  sudah menginisiasi pertemuan antar negara di asia timur. Hal itu diungkapkan Ketua KPPU, Syarkawi Rauf saat konferensi pers di Gubuk Mang Engking, The Breeze BSD, Tangerang, Jumat malam (15/09/2017).

“Khususnya untuk otoritas-otoritas persaingan pertemuan pertama yang kita inisiasi tahun 2005 di Bogor. Tujuannya adalah bagaimana supaya regulasi persaingan antar negara di asia timur ini bisa relatif sama, satu sama lain yang disebut sebagai harmonisasi hukum dan kebijakan persaingan,” paparnya.

Berdasarkan hal tersebut, lanjutnya, KPPU ingintransfer noic dari negara – negara yang  sudah relatif sangat maju dalam penerapan hukum dan kebijakan persaingan seperti Jepang, Korea, Australia, dapat mentransfer pengetahuan itu ke negara yang baru memiliki hukum dan kebijakan persaingan di negaranya seperti di Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja yang lebih baru lagi.

“Setelah 2005 hingga kini di 2017 kita kembali mengumpulkan jumlah pesertanya yang semula terkumpul hanya sembilan otoritas sekarang berkembang menjadi kurang lebih 16 otoritas persaingan di asia timur,” terang Syarkawi.

“Mereka datang kembali dan berkomitmen untuk mendorong, agar regulasi baik dari sisi hukum maupun kebijakan persaingan relatif sama antar negara di asia timur. Namun mengapa hal ini menjadi isu penting, karena, bisnis di asia timur ini berkembang dengan modal disebut sebagai bisnis input yang terdapat dibanyak negara tetapi assemblingnya tertentu, misalnya pembuatan mobil, pembuatan produk teknologi yang lain. Inputnya dari Indonesia, Fhilipina, Malaysia, dan Finishing nya ada di Taiwan, Jepang dan atau di Indonesia. Maka ini butuh hukum yang relatif sama antar negara, karena kalau hukumnya berbeda-beda, ini akan menimbulkan biaya bagi pelaku usaha. Hampir 16 otoritas persaingan di asia timur sepakat untuk menjadikan harmonisasi atau kesamaan dari sisi regulasi hukum dan kebijakan persaingan menjadi prioritas yang akan kita kerjakan kedepan,” imbuhnya.

Lebih lanjut Syarkawi, mengatakan  bagaimana para akademisi persaingan di asia timur ini bisa saling membangun network jaringan, sehingga ada transfer noic dari akademisi Jepang, Korea, Australia ke akademisi di negara-negara yang relatif terbelakang dari sisi kajian ekonomi dan hukum persaingan.

“Kedepannya dari sisi pengetahuan pun akan sama antara apa yang ada di Kamboja, Myanmar, Vietnam dan negara-negara yang sudah maju,” jelasnya. (Ajis)

banner 468x60
Posted by: On: Reply

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply